Waktu Kerja Pengembang Aplikasi

Waktu kerja pengembang aplikasi, baik per orangan atau pun tim, harus dimanaje dengan baik dan benar. Kita tidak boleh menganggap ringan atau menyepelekan masalah waktu kerja; apalagi dengan asumsi bahwa tim pengembang telah berpengalaman mengembangkan berbagai macam software-software yang kompleks.

Pekerjaan pengembangan software memerlukan manajemen yang baik, terutama dari sisi waktu. Umumnya dikerjakan sebagai satu projek. Suatu projek harus selalu menghasilkan suatu produk yang ditunggu untuk dapat digunakan untuk membantu kerja, dan selalu memiliki deadline. Apalagi jika projek yang dikerjakan, merupakan projek pengembangan software untuk pihak lain, bukan untuk sendiri.

Proses pengembangan software, bisa dikatakan merupakan pekerjaan tim, bukan pekerjaan individu. Banyak hal yang harus dikerjakan, dari menyiapkan lingkungan kerja, pekerjaan pengembangannya itu sendiri, sampai dengan pengujian dari software yang berhasil dikembangkan.

Koordinasi antar anggota tim, harus ada, dan harus dilakukan, agar yang dikerjakan dapat menjadi sinergi. Waktu untuk koordinasi harus ditentukan secara rutin. Selain waktu rutin, koordinasi juga dapat dilakukan sewaktu-waktu, sesuai dengan kebutuhan.

Pekerjaan pengembangan software perlu memiliki rangka waktu, karena hampir semua pekerjaan dapat diukur; kecuali jika jenis pekerjaan tersebut belum pernah dikerjakan. Suatu pekerjaan pembuatan software akan sulit diukur apabila pekerjaan tersebut belum pernah sama sekali dikerjakan atau dicoba, tingkat kesulitan atau kemudahan dari pekerjaan memang menjadi tidak diketahui sama sekali. Kita hanya akan memperkirakan waktu yang dibutuhkan, dengan tingkat pencapaian yang 50:50, tepat:meleset.

Salah kaprah sering terjadi, pengembang aplikasi sering disamakan dengan seniman, kerjanya sering berdasarkan ‘mood’. Mengapa? Karena banyak yang bekerja dengan tidak kenal waktu, layaknya seniman, jika sedang ‘mood’, maka kerja akan lancar sekali, dan bisa cepat selesai. Tetapi, jika tidak ada ‘mood’, maka pekerjaan, bisa jadi, tidak akan dapat diharapkan bisa cepat selesai.

Kita bisa atau boleh saja menganggap pekerjaan membangun atau  mengembangkan software, seperti pekerjaan seni. Paradigma seperti seniman ini, sering kali dimaklumi oleh kebanyakan orang yang sering melihat gaya kerja para pengembang yang bisa dikatakan ‘gila’ kerja. Tidak kenal waktu, sampai dengan jarang pulang, bahkan tempat kerja menjadi rumah pertama.

Tipe pengembang yang gila kerja, mirip seniman, tidak akan menjadi masalah dalam satu tim kerja, yang mengembangkan software, apabila pengembang tersebut berlaku demikian di tempat kerja. Pengembang selalu ada di tempat; dan bisa diketahui progress kerjanya.

Tetapi jika kita memiliki satu orang pengembang, yang mirip seniman, secara ‘mood’, tetapi tidak mau kerja di tempat kerja, inginnya di rumah, atau di tempat lain, ini harus diwaspadai.  Mengapa? Karena pengembang tidak selalu ada di tempat kerja, sehingga kita sulit berkoordinasi, apalagi sampai bisa mengetahui kemajuan pekerjaan yang dikerjakannya secara objektif.

Kerja seni yang dilakukan oleh seniman, bisa dikatakan hampir tidak memiliki deadline waktu. Mengapa? Karena hasilnya selalu berkait dengan rasa dari seniman tersebut. Jika seniman telah merasa cukup bahwa hasilnya layak menjadi karya seni, maka selesailah proses menciptanya. Jika belum dirasa cukup, maka pekerjaan bisa ditunda sampai dengan bisa dilanjutkan lagi, jika sudah ada rasa atau ‘mood’.

Kerja pengembangan software komputer, adalah kerja membuat produk yang bisa digunakan. Bukan untuk dinikmati, seperti karya seni. Jadi akan menjadi salah besar, jika ada toleransi terhadap proses kerja yang dilakukan oleh pengembangnya, memperlakukan pekerjaan pembuatan produk, semata seperti pekerjaan seni.

Setiap bagian atau komponen yang digunakan untuk membuat software, seharusnya dapat diukur waktu untuk menyelesaikannya. Waktu untuk menyelesaikan pekerjaan secara keseluruhan harus disampaikan kepada semua anggota tim, sehingga setiap anggota tim dapat memiliki perkiraan untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Setiap anggota tim harus menyadari keberadaan dirinya di dalam tim. Apabila ada anggota yang memiliki tugas/kewajiban untuk membuat librari fungsi atau prosedur, maka dia harus menyadari bahwa pekerjaan yang dilakukannya akan menjadi penentu kecepatan kemajuan pekerjaan. Jika librari diselesaikan dengan waktu yang terlambat, maka semua pekerjaan akan menjadi terlambat juga.

Manajer projek sangat berperan dalam proses pengembangan software, harus dapat dengan cepat memperkirakan suatu pekerjaan akan menjadi terlambat atau tidak, dengan selalu mengadakan pertemuan secara rutin. Pertemuan secara rutin tidak harus melibatkan seluruh anggota tim, tetapi cukup sampai dengan level koordinator. Setiap koordinator harus memiliki waktu juga untuk berkoordinasi dengan timnya.

Setiap anggota tim harus menyadari tentang waktu kerja. Waktu kerja telah ditetapkan oleh perusahaan. Perkara bahwa ada anggota tim yang terkadang membutuhkan waktu kerja khusus, seperti dapat efektif bekerja pada malam hari, maka itu menjadi tanggung jawab dari anggota tersebut. Perusahaan hanya mengetahui akan waktu kerja yang resmi dan target waktu atas hasil yang harus diserahkan oleh setiap anggota tim. Anggota tim harus dapat mengatur waktu kerja, yang disesuaikan dengan batasan yang telah ditentukan oleh perusahaan; yaitu waktu resmi untuk bekerja yang telah ditetapkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: